jump to navigation

Kategori Blog untuk Penokohan 13 Maret 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

tntDalam sebuah sesi kelas menulis barusan, dibahas tentang menciptakan tokoh dalam blog. Aku menjelaskan tentang pembuatan kategori blog berdasarkan tokoh yang kita ciptakan. Sebagai contoh gampang adalah blogku sendiri. Dari banyak kategori yang ada di blogku, aku juga membuat kategori blog berdasarkan tokoh-tokoh yang kuciptakan. Berikut adalah penjelasannya.

  1. Betawi Begaye

    Kategori ini adalah kumpulan Cerita Serial tentang rakyat Betawi. Kisah tentang kesederhanaan keluarga Bang Namun dengan istri tercintanya, Mpok Geboy. Bang Namun bekerja sebagai tukang cukur. Sedangkan Mpok Geboy jualan gado-gado. Mereka punya satu anak yang biasa dipanggil Akhir. Nama panjangnya adalah Akhir Dari Sebuah Penantian Yang Cukup Lama…

  2. Dongeng Sebelum Bangun Tidur

    Kategori ini berisi serial Dongeng SEBELUM BANGUN TIDUR. berkisah tentang kehidupan rakyat jelata di sebuah kerajaan bernama Purbadewa, yang dipimpin oleh sang raja bernama Raja Cemanibuana. Ada tiga tokoh utama dalam dongeng ini, yaitu Mang Papay, Mang Odon, dan Parikesit.

  3. New Kids on the Blog (NKotB)

    Kategori yang kubuat untuk menampung cerita tentang pertemanan 5 orang anak SMA (boarding school). Tokoh utamanya ada 5, yaitu Nawi, Karim, O-jack, Tatox, dan Brohim. Inilah kisah yang MT buat tentang dunia remaja dan dunia pendidikan.

  4. Si Gali

    Gali adalah tokoh yang kubuat untuk menggambarkan sosok lelaki yang tak pernah berhenti berusaha meskipun ditimpa kegagalan terus-menerus. Dia pantang menyerah, walau kadang suka mengeluh. Apapun ia lakukan untuk bisa bertahan hidup. Pada kategori inilah aku menceritakan kisah si Gali dalam usahanya mengejar cinta dan cita-cita.

  5. TnT (Tugino dan Tuginem)

    Pada kategori ini aku menulis cerita bersambung tentang kisah suami istri, Tugino dan Tuginem. Tugino pernah bekerja sebagai penjaga toko, kuli bangungan, dan sekarang jadi anggota Satpam. Sedangkan istrinya, Tuginem mantan Tenaga Kerja Wanita yang dipulangkan ke kampungnya karena tak becus bekerja. Kehidupan TnT merupakan potret lain rakyat endonesya yang hidupnya selalu merasa kurang dan tak pandai bersyukur.

Berdasarkan pengalamanku, membuat kategori memudahkan kita untuk belajar dan fokus dalam membangun karakter tokoh yang kita ciptakan.

Share and Enjoy:

Digg
Sphinn
del.icio.us
Facebook
Mixx
Google
De.lirio.us
E-mail this story to a friend!
Live
Tumblr
TwitThis



Mobilize your blog now! 11 Maret 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

Setelah mencoba cara membuat agar blog kita bisa diakses secara mobile dengan mippin, kini aku mencoba dengan layanan mobile lainnya, yaitu MoFuse. Ya, memang banyak layanan yang bisa me-mobile-kan blog kita. Bisa jadi anda sudah tahu. Tapi tak ada salahnya kutulis lagi pengalamanku dengan MoFuse. Barangkali ada yang demen pakai MoFuse, bisa dicoba.

Mulai saja dengan mengakses halaman web MoFuse. Jika beruntung, anda bisa langsung menuliskan alamat RSS/Feed blog anda pada kolom “enter your blog’s URL or RSS feed here”. Selanjutnya anda akan diminta untuk mengisi form pendaftaran gratis. Tapi bisa juga memulai dengan cara mendaftar terlebih dahulu. Caranya, tinggal isi alamat e-mail dan password, lalu klik Join.

Anda akan dibawa ke halaman dashboard mofuse. Selanjutnya, pada jejeran menu Quick Navigation, klik “Launch a mobile site” atau boleh klik “No sites created” yet pada menu Your Mobile Sites. Isi saja data blog yang akan anda mobilize, seperti skrinsut di bawah ini.

step-mofuse

Kalau data sudah oke dengan indikator alamat Feed/RSS sudah valid, klik saja tombol Launch yang tersedia di bawah form. Jangan kuatir jika ternyata alamat Feed/RSS anda dianggap tak valid. Klik saja untuk mencentang kotak pada pilihan Skip adding an RSS… (seperti contoh yang saya kuningkan di atas). Jika sudah beres, akan muncul pemberitahuan “Your Mobile Site Has Launched!”. Sampai di sini sebenarnya urusan anda dengan MoFuse sudah selesai. Tapi jika masih penasaran mencoba, anda bisa membuat badge untuk menjadi widget mobile version pada blog anda. Jika enggan, klik tombol SKIP saja. Beres.

Ini sekedar contoh untuk dicek.

Hasilnya seperti ini :

contoh-mofuse

Share and Enjoy:

Digg
Sphinn
del.icio.us
Facebook
Mixx
Google
De.lirio.us
E-mail this story to a friend!
Live
Tumblr
TwitThis



keraguanku 10 Maret 2010

Posted by ambisious in aggregator duc.
Tags:
3 comments

Appa eank quw rsa??
Knpa bgni??
Aq tkt…
Aq tkt khlgn dy…
Aq tkt khlgn snyum_a..
Aq tkt cnta_a tak lge utk quw…
Aq tw dy slalu d’dktquw, d’si2quw
tpi apkh sma dgn hti’y??
Aq mrsa rgu pda’y…
Rgu akn cnta_a pdaquw….
Aq btuh kpstian, aq btuh pgakuan n aq btuh prhtian dri_a….
Aq btuh cnta tlus_a n itw hny utk quw…

Senja di Kota Hujan 10 Maret 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

Senja di Kota Hujan adalah lagu yang pernah kunyanyikan bersama grup Fabian Folklore di Bogor. Lagu ini diciptakan oleh Coople Ramadhan. Dikulik pertama kali oleh CR dan MT, namun baru terasa suasana Bogornya setelah “diintervensi” oleh Alux el Fabi, yang bermimpi lagu ini menjadi lagu kebanggaan masyarakat Bogor.

Derai rintik hujan yang tercurah
Senja itu luruh di kota hujan
Basahi daun dan atap-atap rumah
Basahi diriku yang tak terlindung naungan

Kurengkuh suasana temaram
Di bawah lampu jalan yang tak menyala
Kuhirup udara yang basah lembab
Hingga napasku tersengal

Reffrain:
Senja di kota hujan
Tak terlukiskan suasana yang tercipta
Selalu bangkitkan
Kenangan penuhi ruang jiwaku

Kurengkuh suasana temaram
Di bawah lampu jalan yang tak menyala
Kuhirup udara yang basah lembab
Hingga napasku tersengal

Reffrain:
Senja di kota hujan
Tak terlukiskan suasana yang tercipta
Selalu bangkitkan
Kenangan penuhi ruang jiwaku
Senja di kota hujan
Kuingin mendekapmu setiap waktu
Jangan empaskan semua harapan
Meski malam kan segera tiba

cover-fabian-terbangFabian Folklore :
Coople Ramadhan [lyric & gitar]
Alux d’bogor [lead guitar, lyric on Pelangi]
Prind [bass & rythm guitar]
Rudi [drums]
MT [vocal]

album titel : TERBANG
copyright : Fabian Folklore, 1998
License : Creative Commons, 2005

DOWNLOAD this Album @
http://www.archive.org/details/FabianFolklore

Tentang sejarah Fabian Folkore, bisa dilihat di sokin!

Share and Enjoy:

Digg
Sphinn
del.icio.us
Facebook
Mixx
Google
De.lirio.us
E-mail this story to a friend!
Live
Tumblr
TwitThis



my_life 2010-03-08 09:26:31 8 Maret 2010

Posted by autumnleaf in aggregator duc.
Tags:
1 comment so far

ujian nasional sebentar lagi,,,,hughh semoga semua siswa kelas 3 daarul uluum lulus smuanya,,,,,,,amiin,

simalakama 8 Maret 2010

Posted by ambisious in aggregator duc.
Tags:
add a comment

aku wanita biasa yang terbiasa bisa……
aku wanita yang selalu mencoba untuk bisa..
aku bukanlah wanita yang berbisa…
dan tak pernah mencari mangsa……
cinta bangsa dan punya rasa…
tak bisa berdansa dari masa ke masa…
because i’m a nisa……

funny word 8 Maret 2010

Posted by ambisious in aggregator duc.
Tags:
add a comment

Mau mesra cium bibir, (K) Mau enak cium dekat dada, Mau nikmat cium di bawah
udel, Mau lebih panas? Turun Lagi Lebih ke Bawah…..Cium Tuh ASPAL !!! :-P images_0591

Menimbang Kewibawaan 8 Maret 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

patungPara pendemo diamankan pihak keamanan karena dianggap mengancam wibawa pemerintah. Seperti apa sih wibawa pemerintah? Yang aku tahu, demo maupun protes yang digelar oleh rakyat merupakan ekspresi dari rasa ketidakadilan. Ketika rakyat merasa pemerintahnya tak adil, dimanakah wibawa pemerintah? Apakah mereka yang protes itu patut disalahkan karena pemerintah jadi tak berwibawa atau siapakah sebenarnya yang membuat pemerintah jadi tak berwibawa?

Yang kutahu, kewibawaan itu merupakan citra diri. Kita tak bisa memaksa orang lain agar menganggap kita berwibawa. Kewibawaan itu muncul sendiri jika kita memang berlaku baik, adil, dan menyenangkan banyak orang. Tapi tidak semua orang akan menilai kita berwibawa. Bisa jadi hanya orang-orang terdekat dengan kita yang menganggap berwibawa, namun tidak buat mereka yang tak begitu kenal. Lantas, mestikah kita mencibir mereka yang tak kenal dengan kita?

wibawa n : 1. pembawaan yg mengandung kepemimpinan sehingga dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain;
2. kekuasaan; berwibawa v mempunyai wibawa (sehingga
disegani dan dipatuhi): orang yg ~ layak dijadikan pemimpin;
kewibawaan n 1 hal yg menyangkut wibawa; 2 kekuasaan yg diakui dan ditaati

Kalau menuruti kamus, ya kewibawaan merupakan pembawaan. Jadi tak bisa dibuat-buat atau direkayasa. Kewibawaan selaras dengan kekuasaan dan kebijaksanaan. Jika keduanya laras itu compatible, maka otomatis, tak usah dibuat-buat juga kewibawaan akan terlihat secara otomatis.

SBY adalah presiden yang berwibawa. Itu menurut orang-orang terdekat mereka dan yang mengidolakannya. Begitupula dengan Gus Dur, Megawati, Habibie, Soeharto, dan Sukarno. Para pemimpin itu sangat berwibawa dan disegani di mata para pendukungnya saja. Bagi orang yang berpandangan beda, jelas kita tak bisa memaksakan agar mengakui kewibawaan presiden.

Bung Hatta adalah figur yang berwibawa, tapi tidak bagi mereka yang tak suka dengan prespektifnya. Rendra, Iwan Fals, Gunawan Muhammad, Xanana Gusmao, Kartosuwirjo, Khomeini, Bang Jampang, Bang Pitung, dan sosok lainnya adalah orang yang berwibawa bagi pencintanya, tapi tidak bagi yang resah karenanya.

Begitu pula dengan kabinet yang dibentuk oleh beberapa presiden kita. Tidak semua orang menganggapnya berwibawa. Apalagi dengan anggota parlemen dan partai politik yang pandai bicara tak tak pandai merasa. Yang terakhir ini saya rasa paling tidak berwibawa dalam sejarah endonesya.

Setiap kemunculan protes dari segelintir atau sekelompok rakyat, mestinya jangan dihadapkan pada urusan kewibawaan. Protes harus dihadapkan pada masalah utama yang membuat protes itu muncul. Protes korban Lumpur di Sidoarjo (Lapindo) tak matching jika dihadapkan dengan urusan kewibawaan. Begitu pula dengan protes terhadap KPU atau KPUD, ngaco sekali jika dipaksakan menjadi pasal kewibawaan. Protes yang bawa-bawa kerbau, ayam, cicak, buaya, dan binatang lainnya, jangan dihadapkan dengan urusan kewibawaan, tapi tempatkanlah sesuai dengan kritik yang dibawa oleh para demonstran. Aksi terorisme dan separatisme juga begitu, tak tepat kalau mereka dijerat dengan hukum tentang kewibawaan pemerintah dan atau kepala negara. Demo Pedagang Kaki Lima juga begitu, jangan main pentung karena mereka dianggap merongrong kewibawaan pemerintah daerah, tapi apa yang membuat mereka berdemo, itu yang harus ditantang. Mestinya kita menangkap pesan utama yang mereka (para pendemo) sampaikan, bukan bagaimana cara mereka demontrasi. Jangan lihat siapa atau bagaimana para pendemo, tapi lihatlah apa yang mereka suarakan!

Orang yang merasa dan memaksa dirinya berwibawa adalah orang yang tak berwibawa. Kewibawaan tak dibuat-buat, apalagi disebut-sebut. Kewibawaan itu menjelma sendiri. Tidak direkayasa. Justru kewibawaan yang dibuat-buat, direkayasa, hanya akan bikin orang muntah melihatnya.

Memang nilai kewibawaan itu relatif. Kata tukang ojeg di depan komplek rumah saya, pak Harto itu lebih berwibawa ketimbang presiden pasca reformasi. Saya tanya, kenapa dia menilai Soeharto berwibawa. Tukang ojeg yang sudah tua itu beralasan, waktu zaman pak Harto, barang-barang murah, cari duit gampang, kerja gampang. Kalau zaman sekarang, apa-apa serba mahal, serba susah.

Lain lagi menurut bang namun. Waktu zaman Soeharto, yang korupsi cuma sedikit, korupsi bisa diatur sehingga tak begitu terasa di kalangan rakyat kecil. Nah, saat ini yang korupsi banyak, korupsi merajalela di segala sektor kehidupan. Kata bang Namun lagi, waktu zaman ncing Harto, anggota parlemen yang korupsi lebih sedikit ketimbang sekarang. Jadi rakyat nggak kebagian apa-apa. “Jaman karang, semuenye mahal. Rumesakit mahal, sekole nyang rada bener, mahal! Tuh lu liat, anak gue, sekolenye dijalanan, alias ngamen!” Kalo sudah nyerocos, bang Namun susah didiamkan. 

Itu penilaian rakyat kecil, “oknum” tukang ojeg dan tukang cukur. Penilaian mereka lebih didasari oleh urusan sehari-hari yang mereka rasakan : beban hidup! Meskipun kewibawaan tak bisa dilihat dari beratnya beban hidup.

Kalau kata mang Papay, kewibawaan pemimpin bisa dilihat dari caranya merespons kritik. Jika sang pemimpin itu mengeluh di hadapan jutaan rakyatnya, jika sang pemimpin tak tahu kalau banyak kaki tangannya yang terjerumus dalam kemewahan, jika sang pemimpin tak mampu menenangkan emosinya sendiri, tak bisa disebut sebagai pemimpin yang berwibawa.

“Saat staf saya mengambil kebijakan tersebut, saya sedang berada di luar negeri…. bla…bla…bla… namun saya tak menilai kebijakan tersebut salah…”

Jika ada pernyataan seperti di atas dari seorang pemimpin, apakah berwibawa? Mungkin ia ingin dianggap bersikap bijaksana. Tapi karena sikap tersebut memang bukan muncul dari bawaan sang pemimpin, ya kesannya malah cuci tangan dan tetap seolah-olah tak menyalahkan stafnya.

Masihkah pemerintah merasa berwibawa ketika rakyat kita banyak yang menggelandang? Masihkah pemerintah memaksa berwibawa ketika rakyat kita banyak yang tak sanggup bayar rumah sakit, banyak yang tak mampu sekolah, banyak yang tak sanggup beli beras, banyak yang tak kebagian zakat, banyak yang tak sanggup membeli kitab suci, banyak yang nyolong ayam, nyolong jemuran, nilep uang kegiatan, lantaran kelaparan?

Share and Enjoy:

Digg
Sphinn
del.icio.us
Facebook
Mixx
Google
De.lirio.us
E-mail this story to a friend!
Live
Tumblr
TwitThis



Pesantren : Deradikalisasi dan Kearifan Lokal (2) 8 Maret 2010

Posted by Hasbulloh Al-Ghazaly in aggregator duc.
Tags:
418 comments

Tidak ada satu pesantren pun di Indonesia yang mengajarkan faham radikalisme apalagi yang mengarah pada terorisme ” itulah penegasan kuat dari Kiyai Nasrudin Latif pada saat menerima kunjungan dua peneliti yaitu Prof. Mark Woodward dari Arizona State University dan Ali Amin, MA dari CRCS UGM

Menuduh pesantren sebagai tempat persemaian kaum teroris hanya karena alasan-alasan seperti tu sangatlah berlebihan. Faktanya adalah ide-ide radikalisme yang pendorong para teroris menjalan bebagai aksinya itu bersemai di luar pesantren. Tidak ada satu pesantren pun di Indonesia yang membenarkan aksi-aksi radikal semacam itu. Pesantren bukanlah sarang teroris” secara kuat kiyai menegaskan.

Dengan menyampaikan penegasan tersebut kepada peneliti, setidaknya kiyai dan kalangan pesantren memiliki harapan besar pada kunjungan peneliti tersebut untuk ikut serta dengan basis keilmuannya menjelaskan bahwa pesantren bukanlah tempat radikalisasi justeru sebagai tempat deradikalisasi dan pengembangan kearifan lokal.

Sampai saat ini, menurut saya pesantren selalu menjadi kambing hitam dari penyelewengan pemberitaan dari berbagai media massa yang serta merta hanya menyudutkan pesantren sebagai pusat pengembangan faham radikal. Ditambah lagi dari berbagai pernyataan akademisi yang tidak secara utuh memotret kehidupan pesantren, dan juga tidak jelas sumber rujukan yang digunakan oleh akademisi tersebut. Sehingga hanya memperkuat keinginan media dalam menyudutkan pesantren dan diamini oleh negara barat yang mencari kambing hitam atas pembenaran hegemoni yang mereka lakukan.

Padahal, sudah kita saksikan di pentas kepemimpinan nasional, banyak lulusan pesantren yang mampu mengisi berbagai kepemimpinan publik dan mampu mewarnai kehidupan kemasyarakatan di bangsa ini.

Kontribusi pesantren terhadap pengembangan masyarakat menurut saya lebih dahulu dilakukan sebelum negara ini berdiri secara de facto dan de jure, karena perjuangan para walisongo yang mengembangkan sistem pendidikan padepokan dan pengajian ternyata mampu merubah paradigma masyarakat menjadi masyarakat yang berwawasan, memiliki rasa toleransi yang tinggi dan kesantuan yang disanjung oleh bangsa manapun yang berkunjung ke bumi pertiwi ini.

kontribusi pesantren kepada bangsan dan negara telah ada sejak lama, jejaknya sejak negara yang bernama Indonesia ini belum berdiri.

Dengan eksistensinya sebagai sistem lembaga pendidikan tertua yang ada di bumi pertiwi ini, walaupun tanpa dukungan yang utuh dari pemerintah, ternyata pesantren sampai saat ini mampu bertahan sebagai lembaga pengembangan masyarakat yang senantiasa dekat di hati masyarakat.

Daarul Uluum, misalnya, sebagai salah satu pesantren tertua di Kota Bogor, selalu mendidik para santrinya untuk memiliki kepribadian dan sikap hidup yang jelas, mandiri, namun tetap toleran dengan perbedaan dan keanekaragaman.

Halo dunia! 5 Maret 2010

Posted by ambisious in aggregator duc.
Tags:
1 comment so far

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!