jump to navigation

Suramadu bukan Jembatan 9 Februari 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

Aku sedang ingin menulis yang ringan dan sepele saja. Kali ini adalah catatan perjalanan ke Bangkalan, melintasi Jembatan Suramadu (Surabaya-Madura).

suramadu-01Sebelum sampai di mulut jembatan, Kang Haji yang menjadi ketua rombongan mengisyaratkan, agar kami hanya menyebut “suramadu” saja, tanpa “jembatan”. Soalnya, Nenek-nenek yang kami bawa dalam rombongan, sejak dari Malang, tak berani menyebrang jembatan. Mungkin yang ada dalam bayangannya adalah jembatan dari kayu atau jembatan gantung.

Setelah membayar di loket, mobil melaju melintasi Suramadu. Sang Nenek, nyeletuk, “Kita lewat tol ya?” Yang lain tak mengiyakan, malah mengalihkan perhatian dengan menikmati pemandangan laut dan pulau Madura di ujung sana.

Singkat cerita, dengan selamat kami mengantarpulang sang Nenek kepada Suaminya di Cakung, Jakarta Timur. Suaminya menyambut dengan riang, “Wah sampe juga lu pada ke Madura. Nyebrang jembatan Suramadu dong?”

“Jembatan? Udah kagak ada, bang!” Jawab istrinya, sang Nenek.

“Lha? Kagak ada?” Sang suami garuk-garuk kepala

“Lha iya, jembatannye udah kagak ada! Udah diganti sama jalan aspal, tol! Bagus banget dah!”

Tak tahan menyaksikan obrolan kocak, kamipun ngakak berjamaah. Kang Haji menyatakan, “kalo tadi siang gue bilang jembatan, nenek-nenek mane mao ikut nyebrang, bisa gagal rencana kite ke Madura….”

Hahaha…. cerdas juga kang Haji…

Kesederhanaan Kiyai 8 Februari 2010

Posted by Hasbulloh Al-Ghazaly in aggregator duc.
Tags:
add a comment
Kok di rumah gak punya gelas yang bagus yah..?? " tanya kiyai Aep padaku saat beliau bingung mencari gelas untuk memberi hidangan minuman air putih ke tamunya de ruang depan.

Kebetulan ku mampir ke rumah kiyai, karena harus menyampaikan pesan dari salah satu koleganya yang disampaikan melalui HP ku.

lalu ku berusaha membantu beliau menyiapkan minum buat tetamunya, sambil ku juga bingung mencari di mana istri pak kiyai biasa menyimpan gelas untuk menghidangkan minuman tetamu kiyai. Karena sebagai santrinya, ku juga berusaha menghormati tetamu kiyai yang berkunjung ke kediamannya.

Setelah ku menemukan gelas yang kami maksud, akhirnya ku tambah bingung di mana "tatakan/pisin" yang sama dengan yang sudah dihidangkan di depan bagi tamu yang lain.

Hmm... akhirnya ku baru mengerti, kenapa setiap kali ada tamu pak kiyai berpesan kepadaku " apabila ada walisantri atau tamu yang datang, beliau memintaku untuk tidak membawanya ke rumah. :Cukup di kantor saja" minta pak kiyai. Karena kalau di kantor, orang kantor mungkin bisa langsung menyiapkan hidangan buat para tamu.

Sebagai pengasuh pesantren modern yang letaknya di tengah Kota Bogor, mungkin orang berfikir bahwa bertamu ke rumah pak kiyai akan lebih nyaman dan hidangannya pun lebih banyak dibanding bertamu ke kantor pesantren.

Sederhana sekali kehidupan pak kiyai, jika dilihat atap rumahnya saja, ternyata belum pernah diperbaiki semenjak dibangun. Namun atap pesantren sudah beberapa kali beliau memerintahkan kepada bagian kerumahtanggaan pesantren untuk menggantinya. karena beliau khawatir para santri tidak nyaman belajar di pesantren apabila atap yang digunakan sudah rusak dan memungkinkan air hujan membuat kamar santri basah karena atapnya bocor.

Ditambah lagi lantai rumahnya masih terbuat dari "acian/pelesteran" semen bukan dari keramik seperti lantai kamar santri dan kelas santri untuk belajar.

Namun, yang menarik buatku adalah tumpukan kitab yang ada di lemari panjang yang membatasi ruang tamu dengan ruang keluarga. hampir lemari tersebut tidak cukup untuk menyimpan seluruh kitab yang dimiliki kiyai.

Kepemimpinan di pesantren tempatku belajar memang selalu menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, kesahajaan dan ketekunan dalam belajar.

Dari sejarah pendirinya misalnya, beliau tidak mewariskan harta benda yang banyak untuk keluarganya, kecuali wakaf pesantren yang harus diurus oleh para keturunannya. Ketika banyak tamu yang berkunjung mencari rumah pak kiyai, yang didapat hanya kamar berukuran 4x4 ditambah satu kamar mandi.

Namun. apabila untuk pengembangan pesantren, semuanya disiapkan karena menurut beliau kenyamanan santri dalam belajar harus lebih diutamakan. dan akhirnya sekarang pesantren selain sudah memiliki pesantren filial (cabang) di daerah sukaraja nagrak seluas 2 hektar, juga sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitias : masjid yang sudah megah, seluruh kamar dan kelas santri yang permanen dan berlantaikan keramik, laboratorium komputer yang sudah mempunyai akses langsung dengan jaringan internet.

Ini adalah salah satu gambaran kesederhanaan kiyai di pesantren tempatku belajar, walaupun begitu apabila urusannya untuk kenyaman santri beliau sangat antusias menyiapkannya.

Mudah-mudahan masa belajarku di sini mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Sehingga masih banyak ilmu yang bisa ku pelajari. Amiin.


.



Cinta Seorang Koruptor 8 Februari 2010

Posted by Pe'es in aggregator duc.
Tags:
add a comment

Aku mencintai negeri ini
Sangat cinta
Luar biasa cinta

Kalian akan lihat dan rasakan cintaku
Pada setiap inci kulitku
Pada setiap tarikan nafasku
Pada setiap sel pembentuk tubuhku
Pada setiap gejolak pikirku
Pada setiap ayun langkahku
Pada setiap detak jantungku

Aku cinta negeri ini
Sepenuh jiwa dan raga

Begitu dasyatnya cintaku
Sampai aku tidak rela
Kalian menginjakkan kaki di buminya
Kalian mendirikan rumah di atasnya
Kalian isi perut kalian dari apa yang tumbuh di atasnya

Aku cinta negeri ini
Semua yang ada pada negeri ini
Hanyalah milikku!
Ingat itu!…

Aku tidak pernah mencuri uang kalian
Aku hanya mengambil uang milikku yang ada di kantong negeri ini

Aku tidak menipu kalian
Aku hanya membagi bongkahan emas negeri ini menjadi dua
Satu untuk kantong kiriku
Satu untuk kantong kananku

Aku tidak pernah merampok lumbung kalian
Lumbung itu adalah milik negeri ini
Dan, itu berarti adalah milikku

Aku cinta negeri ini
Aku milik negeri ini dan negeri ini milikku
Kami saling memiliki
Ingat itu!…

Bogor, 06 Mei 2009, 02.10 WIB

Bundel Balada Si Roy karya Gol A Gong 6 Februari 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

“Lelaki harus pergi, tetapi juga harus pulang, karena ada yang mengasihi dan dikasihi.” (Roy, 17 tahun, Balada Si Roy)

baladasiroyBegitulah remaja Roy pernah merasuki pembaca negeri ini di era 80-an. Pernyataan atau pendapatnya tentang bagaimana seharusnya mnejadi lelaki; jujur, berani, saying kepada ibu, menghargai perempuan, ternyata menjadi ideology berseberangan dengan remaja mapan pada umumnya di Jakarta. Roy menjadi represntasi remaja Indonesia kebanyakn pada masa itu. Farhan, presenter “Tatap Muka” di TV One menyatakan, “Roy itu antitesa dari ‘Catatan Si Boy’. Roy melabrak kemapanan yang diwakili tokoh Boy!”

PEMBACA DILIBATKAN
Kalau kamu termasuk pembaca novel serial “Balada Si Roy” karya Gol A Gong dan ingin kembali mengoleksi atau untuk diwariskan ke anak, adik, dan orang yang dikasihi, “Balada Si Roy” yang awalnya diterbitkan sepuluh buku oleh Gramedia Pustaka Utama (1988 - 94), kini akan diterbitkan dalam bentuk bundel 1 buku seperti Musashi. Tebal (estimasi) 450 hlm, ukuran buku : 15 x 23 cm, Kertas : HVS 70 gram, dan warna cetak isi hitam-putih.

Apakah ada yang baru di buku “Balada Si Roy” edisi bundel ini? “Ya,” kata Gol A Gong. Yaitu, tentang bagaimana proses kreatif “Balada Si Roy” tercipta. Gong menceritakan bagaimana ide awal muncul, juga siapa sebetulnya pra tokoh di “Balada Si Roy” seperti Andi, Dewi Venus, Toni, dan Dullah. Juga ada bonus stiker dan pin.

Selain itu Gong juga akan memuat 10 essay atau tulisan terbaik dari para pembaca “Balada Si Roy”. Siapa saja boleh mengirimkan pendapatnya tentang tokoh “Si Roy” ke email  balada.siroy at yahoo.com. Juga untuk cover, jika ada pembaca yang ingin menyumbangkan kepiawaiannya melukis, silahkan saja. “Dulu Mas Wedha. Tapi, saya mau mncoba mengajar pembaca terlibat, karena ini atas desakan pembaca juga.” Maka, silahkan kirim gambar/ilustrasinya. Sedangkan gambar-gambar Mas Wedha akan disertakan di dalam untuk cover masing-masing episode, sebagai pembatas.

HARGA TERJANGKAU
Kalau dulu harga satuan “Balada Si Roy” berkisar dari Rp. 3500,- (1988) hingga Rp. 15.000,- (1994), kini harga bundelnya Rp. 100.000,- plus ongkos kirim untuk Jawa 15.000. jadi total Rp. 115.000,- Untuk luar Jawa Rp. 100.000,- plus ongkos kirim Rp. 25.000,- jadi Rp. 125.000,-. Keuntungan 25% akan disumbangkan ke Rumah Dunia, komunitas baca yang didikan Gol A Gong  www.rumhadunia.com dan www.rumahdunia.net). Buku akan dicetak (print on demand) setelah minimal terkumpul 1000 pemesan.

Apakah mahal? Beberapa pembaca menyatakan tidak. Anggit Wicaksono dari Karanganyar Solo berpndapat, “Siapa, Mas! Nggak rugi!” Begitu juga Ochan dari Makasar, “Saya pesen, Mas! Harga segitu kejangkau!” Di facebook juga sudah banyak yang menanti edisi khusus ini. Mereka semua menginginkan menkoleksi buku “Balada Si Roy” dalam bundel 1 buku, karena koleksi mereka sudah berceceran.

Bagi yang berminat langsung transfer ke BCA Serang, norek 245 1790 121 atas nama Heri Hendrayana. Jawa Rp. 115.000,- dan luar Jawa Rp. 125.000,- Confirm setelah transfer ke  balada.siroy at yahoo.com . Tulis nama lengkap, alamat, no hp. Terima kasih atas supportnya. Tetap semangat membeli buku sambil menyumbang ke Rumah Dunia! (Jang RuDun)

10 Juta Lenyap Sudah 5 Februari 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

uangTugino pulang kerja dengan riang gembira. Ini masih jam 4 sore. Mestinya ia belum jam pulang kerja, tapi karena Ngkoh Cin Lung sedang tak ada di kantor, kepada bagian HRD, Tugino beralasan anaknya sakit dan mau membawanya ke dokter. Padahal, sebenarnya ia tak sabar setelah mendapatkan sms dari dari calo tanah tadi pagi.

“No! Uang bagian kamu sudah saya titipkan istrimu, pas kamu berangkat kerja tadi. Lumayan, 10 juta! semoga bermanfaat ya, No!”

Begitu isi sms dari rekannya sesama calo tanah. Gara-gara SMS itu, Tugino tak betah berlama-lama di kantor. Seragam Satpam yang ia kenakan terasa sempit. 10 juta! hanya itu yang ada di kepalanya. Belum pernah seumur-umur ia mendapatkan uang sebanyak itu. Dan baru kali ini ia berhasil mencalokan tanah di sekitar Cikarang, setelah puluhan kali bersengketa karena kasus 3 in 1 : 3 sertifikat asli untuk 1 kavling :D

Tergesa-gesa Tugino melompat dari angkot, menelusuri jalan aspal bolong-bolong di pinggir kali Tegal Gede, belok ke gang buntu, dan membuka pintu rumahnya dengan salam, “Nem, tadi bang Japra nitipkan uang kan?”

Tuginem – istri resmi Tugino -  terkejut. Kehadiran suaminya telah mengganggu keasyikannya menikmati aksi Shah Ruk Khan, bintang film India pujaannya. “Kalo datang jangan ngagetin dong, mas!” seraya menekan tombol pause pada remote control DVD Player. Otomatis gambar bintang pujaannya mematung dengan mulut monyong. Jelas sekali detil wajah sang bintang karena tampil pada TV 29” dengan resolusi tinggi.

Tugino gantian terkesima, “Hah? TV dari mana tuh, Nem? Hah? DVD baru, nem?!!!”

“Ya iya lah, mas. Tadi kan bang Japra ngasih uang seamplop coklat. Masih ada lebel banknya, 10 juta, mas!” jawab Tuginem, innocent.

“Itu uang titipan, nem?!” Tugino marah. Ia bergegas duduk di depan istrinya.

“Bang Japra nggak bilang nitip. Dia cuma bilang, ini hak kalian, semoga bermanfaat! cuma itu.

“Duuh, Nem! Itu uang udah ada rencana pengeluarannya! kamu jangan seenaknya pake gitu aja. Gimana sih kamu! Malah kamu belikan barang-barang nggak berguna gitu!!!”

“Lha, mas ini bagaimana tokh? Barang bagus begini dibilang nggak berguna?! Jaman sekarang sudah tak pantas pakai VCD Player, mas! Semua orang sudah pakai DVD! Lagipula, TV kita yang 14” sudah tak muat buat memunculkan gambar DVD yang bagus-bagus, mas! Gimana sih kamu ini. Kalau tak ada hiburan, aku mau ngapain lagi di rumah? kerja nggak boleh!!!” mulut Tuginem makin monyong, itulah indikator kedongkolannya.

“Tapi itu bukan cuma uang aku, Nem! Aku mesti bagi-bagi sama teman-teman yang berjasa jualin tanah! Lagipula aku sudah rencana mau nyumbang 1 juta ke Panti Asuhan, Duuuh, Nem…. Mana sisanya?”

“nih!” Tuginem memberikan amplop coklat dengan tatapan tetap pada wajah bintang pujaannya di TV barunya.

“Haaaah?? tinggal sejuta, nem?!” Tugino mangap. Matanya memelototi wajah sang istri yang sedang fokus melanjutkan film favoritnya.

“Emang tinggal segitu, mau diapain lagi? Kwitansinya ada semua koq. Ngapain sih aku ngentit uang kamu! Memangnya kamu, yang sering ngentit uangku waktu aku masih kerja …” jawab Tuginem, santai. “Katanya mau nyumbang Panti Asuhan 1 juta. Ya, pas kan?!”

“Anak-anak kamu belikan apa?” tanya Tugino tentang nasib ketiga anaknya yang biasanya, kebutuhannya sering dilupakan oleh ibu kandungnya itu.

“Uang 10 juta mana cukup buat beli kebutuhan anak-anak, mas! Piye tho?” Tuginem cemberut.

Tugino berjalan lunglai dan merebahkan tubuhnya di atas meubel panjang. Lemas. Kepalanya mendongak beralaskan pinggiran meubel, menatap ke langit-langit rumah yang blang-blentong. Tangannya masih menggenggam uang sejuta.

Pupus sudah rencana Tugino terkait uang 10 juta. Terutama rencananya mengunjungi Inah, selingkuhan Ngkoh Cin Lung, atasannya, yang merangkap sebagai selingkuhannya juga… Padahal Tugino berencana memanjakan Inah dari sebagian harta yang ia punya.

Surat Cinta Bang Namun kepada Mpok Geboy 4 Februari 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

memeriahkan event yang digelar oleh idana dan julie, aku menuliskan kisah yang agak sulit mendapatkan datanya. Maklum, kedua tokohku ini memiliki kemampuan menjaga rahasia tingkat tinggi, yaitu : Lupa, menaruh dimana surat-surat cintanya semasa remaja. Tapi beruntung, masih ada selembar sobekan kertas bergaris tipis tebal dengan warna tak lagi putih. inilah surat cinta itu … eng ing eng…..

suratcintabangnamun-copy

kembang sepatoe berwarne djingga
dipetik bocah pake bamboe
hatikoe soedah rasakan tjinta
sedjak bertemoe dengan dirimoe

Naik sado ke kemajoran
kudenye ngantoek kepingin tidoer
gerangan adek jadi pikiran
abang gelisah nggak bisa tidoer

dipoekoel mandor kakikoe memar
bore’in caplang si obat gosok
djikalo adek siap dilamar
abang ‘kan dateng gak nunggu besok

abang nunggu di depan mesjid
boeat dapet djawaban adek

yach begitulah, semoga terhibur :D


Bayang Gambang 4 Februari 2010

Posted by ozzymaesyar in aggregator duc.
Tags:
add a comment

dsc035782“Bayang Gambang”, begitu tulisan yang kubaca, sebagai deskripsi atas salah satu peninggalan Sunan Drajat, yang menjadi salah satu media bagi beliau untuk menjalankan proses da’wah penyebaran ajaran islam di tanah jawa. Adalah sebuah panggung yang tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil dan bahkan cukup nyaman untuk dijadikan tempat berkumpul, bercengkrama, atau bahkan bermusyawarah. Di tempat ini pula konon para Wali Allah sering mengadakan kumpulan untuk membicarakan tentang cara cara, hambatan hambatan, target target, atau penyampaian tentang ” update ” usaha mereka dalam proses pengislaman tanah jawa..

Setelah bertawassul sejenak di pusara Sunan Drajat, Aku, Nasruddin, Iqbal. Faruk, Yaser ( saudara saudaraku), H Abdul Razak, Haji Udin, Om somad ( paman pamanku ), dan Pa Hanafi ( bukan saudara, bukan paman, juga bukan temen). Kami mulai menelusuri peninggalan peninggalan Sunan Drajat yang mungkin tersebar di komplek makam yang ku harap bisa menjadi inspirasi bagi kami.

Di antara himpitan makam makan keturunanya, kami menyaksikan ada dua buah bangunan terbuat dari kayu, yang satu berupa bangunan utuh yang sangat artistik berwarna jati, kata kakakku yang pertama itu adalah bangunan mesjid yang sering digunakan para peziarah untuk shalat beristirahat, dan entah kenapa aku tak begitiu tertarik dengan bangunan itu. Kami malah lebih tertarik pada bangunan yang kedua, dan satu persatu dari kami kami pun menghampari bangunan itu, sebuah bangunan dari kayu yang nyata terlihat sangat tua dan tidak mungkin bisa di pergunankan.

” Nah..ini bangunan yang sering di pakai oleh mereka ( Para Wali Allah ) untuk berkumpul”, kata kakakku yang pertama..
Oooh begitu, ujarku sambil mengangguk angguk tanda mengerti,
” kayunya sudah tua yah” , ujarku lagi, sebuah pertanyaan yang tidak perlu di jawab

Aku memang mengerti betul maksud pernyataan kakakku itu, karena kami pun sering melakukannya, berkumpul, bermusyawarah, ngobrol, dan membicarakan apa saja yang bisa di bicarakan, yang bisa membuat kami bersemangat atau termotivasi untuk menjalankan amanah orang tua kami yang terasa berat untuk kami pikul, atau sebaliknya, malah membuat kami semakin pusing tujuh keliling dan musyawarah pun bubar tanpa solusi.

Mungkin itu harapan yang muncul dalam benak saudara saudaraku, meneladani perjuangan para wali dan kami pun harus mencoba mencontohnya, karena memang itu tujuan dari perjalanan ziarah ini, mencari semangat, motivasi, dan inspirasi.

Tapi, saat kulihat wajah kakakku yang pertama ( Ia adalah pemimpin kami di keluarga dan dilembaga kami kelola), dengan kepala bagian depan hampir botak, dengan kaos oblong dan handuk kecil di pundaknya, mirip seperti tukang becak yang sedang mengadukan nasibnya karena becaknya belum lunas dan segera disita oleh leasing.

Dan kulihat pula kakakku yang kedua ( Ia adalah pimpinan sebuah pesantren yang katanya tertua di Kota Hujan), Boro boro seperti kiai, saat itu ia lebih mirip seorang wartawan yang “cekrak cekrek” sibuk mengambil gambar seperti seorang wartawan yang gambarnya akan di muat dikoran sore, padahal hasil jepretan kamera handpond Sony ericssen nya belum tentu jelas.

Kualihkan pula pandangan pada kakakku yang ketiga ( Ia pun seorang pimpinan pesantren, walau belum begitu tua, tapi muridnya sangat banyak ), dengan celana sontog, kain yang dilipat dan diletakan di atas kepala dengan maksud apa aku juga tak tahu. Yang jelas, ia mirip salah satu penduduk bukit tengger yang celangak celinguk mencari kambingnnya yang lupa belum di kasih makan.

Hatiku jadi tertawa geli melihat wajah wajah mereka, di tambah lagi dengan wajah paman pamanku yang seperti para pengelana konyol yang lupa atau bingung jalan pulang karena kehabisan ongkos.

Belum habis rasa geliku, ku alihkan kembali pandanganku pada ” Bayang Kambang” itu.
Alih alih mendapat inspirasi, yang muncul malah imajinasi tentang suasana musyawarah Para Wali. Dan, yang muncul bukan lagi niat untuk merusaha mencontoh, malah sebaliknya.
Timbul pertanyaan dalam diriku :” kira kira kalau mereka (para wali) berkumpul seperti kami atau tidak yah..? yang senantiasa kumpul tanpa jadwal yang jelas tapi dengan intensitas yang tinggi, dari pagi hingga malam. dari senen hingga ketemu senen lagi, dari minggu pertama hingga minggu keempat, atau dari januari hingga bulan desember. Selalu berkumpul membicarakan berbagai masalah, dari masalah perkembangan usaha syiar yang tak kunjung berkembang berkembang, tentang masalah bisnis bisnis yang telah dirintis agar dapat menopang segala usaha syiar yang berakhir sebaliknya, malah membuat segalanya jadi roboh berantakan, atau tentang pengorbanan pengorbanan yang membuat kami jadi tidak ikhlas, malah bikin sebel dan gondok karena pemberian yang salah sasaran, atau tentang murid murid kami yang beraneka ragam, yang bodoh, pintar, kaya, miskin, belagu, manja, cengeng, berani, penakut, kepribadian tidak jelas, dan lain lain.

Atau, tak jarang kami saling bercerita tentang fenomena fenoman adari timur sampai barat, atau dari kutub utara sampai kutub selatan , tentang yang kami tahu atau bahkan tentang yang kami tidak tahu sedikitpun tak luput jadi bahan musyawarah. Hikmah apa yang ingin di petik, kami pun tak tahu pasti.

Imajinasiku mulai tak terbendung lagi, mataku masih menatap detil detil bangunan “Bayang Kambang” dengan rasa geli yang belum hilang, mulai muncul sebuah dialog imajiner tentang para wali yang tengah berkumpul dan berbincang.

Kubayangkan saat itu “drajat” sedang tiduran miring dengan jubah lusuh dengan kepala di topang tangan. Disampingnya, “Ampel” duduk bersila dihadapan sebuah meja sambil mencatat sesuatu yang ga penting penting amat, hanya memanfaatkan alat tulis yang menganggur, tiba tiba datang sebuah kereta kuda yang di kendalikan Girii.

” ama siapa gir”? …sapa “Ampel” sambil tersenyum seperti biasa..

dan “Gir”i pun langsung duduk tak perlu menjawab (emang ama siapa lagi selain yang itu itu juga),
merekapun mulai pada duduk dengan berbagi posisi, ada yang selonjoran, ada yang langsung tiduran, dan ada juga yang yang langsung sibuk membuka kitab ” Misbahul Online “.

” lagi pada ngapain nih” ?, tanya “Giri” pada “Ampel” dan “Drajat”
Ah.. lagi begini aja ” jawabnya ambil sambil menutup buku
“ngobrolin rencana ” tambah “Drajat” tanpa kata lanjutan sambil memperbaiki penutup kepala

” pada ngopi nih”? “Ampel” bertanya pada yang lain setengah ragu jangan jangan kopinya ga ada

” iya dong” jawab yang lain serentak..

Dimulai dengan Pembicaraan yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah syiar, selanjutnya, mengalirlah obralan obralan lain tentang masalah masalah mereka sehari hari, tentang para murid, para guru majelis, tentang keluarga, tentang peluang peluang dana dari Majapahit yang harus segera di tindalk lanjuti dengan proposal, seakan akan semuanya adalah masalah penting penting yang harus di carikan jalan keluar..

” Malik Ibrahim kemana” ? pertanyaan “Ampel” memecah obrolan
dan “Ngundung menjawab ” Tau tuh…tadi malem mah ada tiduran di pelataran mesjid di samping koropak”

“Jenar” ? ada ?
Ah..perasaan jarang ketemu sama dia, paling paling malem ketemu sambil bawa cucian, biasanya ngumpul di tempat para guru majelis, sambil mengisab cerutu buatan Blambangan, soalnya kalau ngisep di rumah bakal ditabok sama nyai nya….. biasanya sih sambil menawarkan barang barang purbakala zaman kerajaan Kutai”. jawab salah satu peserta musyawarah

“barang apa” ?

“ya itu…blangkon raja Kutai, atau senjata Sam Urai dari dari negeri yang orangnya merem merem..

“Ah masa” ? tanya “Ampel” lagi

” Eeeeh dipikirin…sudahlah, mau percaya mau ga, ga dapet pahala ga dapet dosa..biarin aja..!! Lebih baik kita fokus sama masalah kita” tegas ngundung.

” Ya udah kita kembali ke masalah kita, masalah yang mana nih ?”, tanya ampel kebingungan karena saking banyaknya masalah.

Dan akhirnya musyawarah pun sampai pada puncaknya.

” begini …. Pel, kata “Giri”, “kira kira ada buat genselan dulu ga yah, nanti insya Allah di ganti kalau proposal dari Majapahit sudah tembus, kira kira awal bulan besok lah…lumayan lah buat menambah sarana buat syiar, nanti di ganti dari situ, soalnya para carik dari majapahit minta anggaran dulu besok”

“berapa ?”
“Yaaah…kira kira sekian lah
“Drajat..! kamu ada dulu ga ?
“Waaah..belum ada euy..mungkin kalau minggu depan ada, itupun bantuan dari majapahit juga yang dananya ga bisa di gannggu gugat…..karena emang ga ada dananya ” ? Drajat sedikit menjelaskaan…

” yah yah yah…coba besok mudah mudahan ada ” ? jawab “Ampel”, mungkin sambil berdoa mudah mudahan tidak ada lagi hari esok

Dan peserta musyawarah pun semua terdiam, sambil memutar otak, yang putaranya ga akan kunjung berhenti sebagaimana bumi berputar.

Dan musyawarah pun bubar, dan hasilnya…sepertia biasa… tidak jelas yang mana masaalah apa yang harus diutamakan dan di prioritaskan, semuannya jadi maha penting

” Hayu zy..yang lain sudah jalan “….akhirnya ajakan dari Prass membuyarkan imajinasiku yang singkat, sembrono, dan serampangan. Imajinasiku tentang Bayang Kambang sebagai salah satu tempat Para Wali serta suasananya pada saat itu sudah barang tentu tidaklah benar.

Aku kembali berjalan menyusuri jalan kecil di dalam komplek pemakaman Sunan Drajat sambil berbaris dengan jarak tak beraturan. Iqbal, Faruk , Prass, yaser, mereka berjalan di depanku. Sedangkan Nasrudin beserta paman pamanku berjalan di belakangku.

Seiring dengan menculnya senar mentari, akupun melangkahkan kaki dengan ceria.
Dengan hati yang terasa sangat bahagia karena berada di tengah tengah saudara saudaraku yang sedarah, sehati, seperjalanan, dan selalu satu tujuan.

Yaa Allah…..Ridhoi langkah kami…

Ini Makam Siapa Yah ? 4 Februari 2010

Posted by ozzymaesyar in aggregator duc.
Tags:
add a comment

dsc034872Dalam perjalanan kami mengelilingi pulau jawa dan sekaligus berziarah ke makam makam serta ke tempat tempat para Wali/Ulama terdahulu, berbagai macam kisah dan cerita selalu  mengiringi perjalanan kami. Dari cerita cerita yang inspiratif sampai cerita cerita lucu dan menggelikan selalu tersempil dalam perjalanan kami dan itu cukup menjadi hiburan di tengah keletihan

Waktu itu menjelang adzan subuh, kami tiba di Karang Ampel yang menjadi bagian dari kota Besar Cirebon. Kota ini menjadi tujuan pertama kami, karena di kota ini pula salah satu Wali Allah Kanjeng Sunan Gunungjati pernah berda’wah menyiarkan agama islam, sekalgus menjadi tempat dimana beliau dimakamkan.

Adzan subuh telah berkumandang beberapa menit yang lalu saat kami tiba di lokasi pemakaman. Dan ternayata lokasinya tidak seperti yang ada dalam pikiranku, sebuah pegunungan yang jauh dari hiruk pikuk manusia, melainkan sebuah tempat yang berada di pinggir jalan besar dan hampir tepat ditengah jantung kota. Dan Om Somad pun segera memarkirkan kendaraan Teriosnya dan diikuti Iqbal di mobil yang kedua, di pinggir jalan.

“ mana makamnya Om ? ” aku bertanya sama Om Somad setelah turun dari mobil sambil sedikit mengerak gerakkan badanku menghilangkan pegal dan kaku..

“ Tauuu…. sekarang mah kaya nya sudah beda, dulu ada gunung kecil di sini, dan situlah makamnya berada ”. Jawab Om Somad sambil menengok kiri kanan

“ Itu bukan Om gunungnya ?” kataku sambil menunjuk sebuah gundukan besar yang sedikit di balik rindangnya pepohonan di seberang jalan..

“ Oh iyaah..itu dia masih ada gunungnya ? “ jawab dia setengah hati sambil membalikan badan dan mengambil sesuatu dari dalam mobil.

“ Yaah masih masih ada kali Om…lagian siapa pula yang iseng mindahin gunung !!” akupun menimpalinya dengan senyum sedikit kecut.

Kamipun segera bergegas mengambil barang barang yang diperlukan, di awali dengan ajakan Ust Nasrudin kamipun berjalan menuju pemakaman itu. Tapi…aku heran, karena jalan yang di lalui justru kekiri ke sebuah gang di tengah himpitan rumah rumah. Sedangkan komplek makam berada di kanan seberang jalan.

“ Ko kesini sih A…? “ akupun bertanya pada Ust Nasrudin..

“ Iyaah..kita solat dulu supaya jongjon..lagian makamnya masih tutup Oz “ Jawabnya..

“ Oooh…begitu “ aku menjawabnya antara mengerti dan tidak. Aku mengerti karena dengan sholat terlebih dahulu kita akan tenang mengerjakan apapun setelahnya, yang aku tidak mengerti ? “ Kok makam ada tutupnya yah…..kaya warteg …hi.hi.hi..

Setelah sampai di mesjid, kami bergegas mengambil air wudhu da sama samma mengerjakan sholat tapi terpisah pisah, ada yang di tengah, di pojok, di pelataran, dan ada juga yang menerobos kebarisan paling depan. Dan setelah mengerjakan sholat, aku, Prass, dan Ust. Nas berbaring di pelataran mesjid sambil berbincang bincang menunggu yang lain berkumpul.

Setelah semua berkumpul, kami bersepakat untuk mengisi perut kami terlebih dahulu sebelum menuju makam ( supaya jongjon kata Ust. Nasrudin mah ). Dan setelah berputar putar sejenak akhirnya kami menemukan sebuah rumah makan terletak di pojok jalan, kamipun makan walau dengan menu yang tersedia dan sedikit di paksakan masuk perut, karena semua lauknya terasa sangat manis (tidak cocok dengan lidah kami)

“ Eh.. Kopral Hanafi mana ?“ tanya Ust. Nasrudin ditengah aktivitas makan kami..

“ Ooo iya” jawabku pura pura ingat sambil beranjak dari kursi untuk segera mencarinya.

Dan Kopral Hanafi pun segera kutemukan sedang duduk dan khuss berdo’a di barisan paling depan mesjid di hadapan sebuah tembok yang berbentuk kotak lumayan besar..

“ Maang, hayo “ akupun menyapa sambil menepuk pundaknya halus.

“ Eeeh…hayo kemana ? ” sambil menoleh dan sedikit terkaget.

“ Yah kemakam Sunan Gunung Jati ..lah “

“ Loh…ini makam siapa? “ dia bertanya sambil mengarahkan mulutnya ketembok yang ada di depanya..

“ Huus, itu bukan makam ! ” jawabku

“ haah….kalau bukan makam, emang itu apa ?” tanya dia lagi

“ Itu kolam ikaaan maaaaang..?’ jawabku sambil sedikit berbisik ketelinganya

“ Ah..masa sih ?“ dia pun kaget segera berdiri dan berjalan mengikuti ku di belakang ( sebenarnya akupun aku pun tidak tahu tahu sebenarnya itu bangunan apa, he he he…… ).

Matahari belum lagi muncul, setelah sarapan yang ga enak, kami semua pun segera berjalan menuju Makam Kanjeng Sunan. Di depan gerbang makam kami disambut para petugas makam yang berdiri disamping koropak yang tersedia, dengan nada agak sedikit kurang sopan petugas itu menyuruh kami ntuk mengisi koropak terlebih dahulu sebelum masuk komplek, dan Prass yang berada di barisan paling belakang yang akhirnya memasukan beberapa lembar uang kertas kedalam koropak.

Kami pun berjalan menysuru jalan yang agak sedikit menanjak menuju atas bukit dimana makam berada. Ditengah perjalanan, aku melihat sebuah makam yang sangat besar melebihi ukuran normal, kira kira sepuluh atau limabelas kali lipat dari ukuran makam bisa.

“ Weeh..ini makam siapa yah ? ” aku bertanya pada yang lain

“Weeh..iyah..makam siapa yah ? ” Prass pun menimpaliku

“ Usss..gede amat yah ? “ Faruk pun menambahkan

Tanpa ada yang menjawab dengan pasti sebenarnya itu makam siapa. mungkin nanti setelah kembali dari makam Kanjeng Sunan kami akan mencoba mencari tahu lebih lanjut.

Sampai di atas bukit kecil, tibalah kami di depan pintu sebuah bangunan yang tidak terlalu besar, dan kami di persilahkan masuk oleh beberapa petugas , itupun setelah kami kembali sedikit dipaksa untu mengisi koropak yang tersedia di depan pintu. Kamipun berkumpul di depan makam yang di kelilingi kain lusuh yang depanya berserakan beberapa perlengkapan sesajen dengan aroma dupa yang menyengat.

Kamipun bersama sama bersila dan berdoa yang dipimpin oleh pamanku yang paling tua, KH. Abdul Rozak . Namun, ketika kami tengah khusu berdoa dan membaca Fatihah, tiba tiba pamanku yang memimpin doa menoleh pada kami dan bertanya :

“ Ini makam siapa ? “ sambil menoleh pada kami satu persatu dengan logat sunda dan mimik muka yang sedikit aneh.

Kami semua pun mengangkat kepala dan saling berpandangan satu sama lain dengan wajah keheranan, tak ada yang berani menjawab..

“ Lah…ga taaau “ akhirnya Prass menjawabnya dengan wajah sedikit menahan tawa memecah kebisuan kami

“Ini makam siapa pa ?” pamanku bertanya pada petugas makam dengan nada sedikit tinggi..

“ Dzaaaa…tu hhhhaaafffi ? “ jawab petugas itu dengan kata tidak jelas

“ Siapa ?!?! “ tanya pamanku lagi

“ Dzaaatu haaaahhfii “ jawab petugas itu lagi

“Dzaaatu Kahfi ” kakakku Ust. Nasrudin menegaskan jawaban petugas itu ( dan wajahnya kulihat sedikit kesal )

Tanpa bertanya apa apa lagi pamanku kembali menghadap makam dan melanjutkan doa, dan kami pun mengikutinya sambil tidak kuat menahan tawa. ( Soalnya, pamanku dari tadi mimpin doa di hadapan sebuah makam, tapi sebenarnya ia tidak tahu makam siapa gerangan yang ada di depannya, yang ternyata bukan pula Makam Kanjeng Sunan Gunung Jati ).

Akupun berkata dalam hati sambil menunduk antara khusu dan menahan tawa …

“ Pantas saja… aku tadi agak sedikit curiga melihat wajah kakakku Ust. Nasrudin celingukan kesana kemari dengan wajah tidak serius, ternyata dia melihat sesuatu yang berbeda didalam lokasi makam, yang lebih terlihat sebagi tempat memuja ketimbang tempat bertawassul “.

Kami akhir nya keluar dari bangunan makam tanpa perasaan tertarik sedikitpun untuk mengamati makam itu, itupun lagi lagi kami dipaksa agar tidak lupa mengisi koropak… “ Baah…gua tendang juga nih koropak “ hati ku berkata sambil menahan kesal..

“ Kirain itu makam Sunan Gunung Jati Om?” aku bertanya lagi pada Om Somad setelah keluar dari bangunan makam

“ Bukan Lah Zi….Makam Sunan Gunung Jati adanya di sono ?“ jawab Om Somad sambil menunjuk kearah seberang jalan yang entah kemana, akupun tak tahu..

“ kenapa ga kasih tahu dari tadi Om, kalau makamnnya disana ?” aku menimpalinya

“ Sebenarnya gua udah tahu kalau makamnya bukan ini, gua Cuma ngikutin luh luh pada jalan kesini“ Tegas dia sedikit sombong..

“ Dasar Somdun ?” hatiku mengerutu

Semuanya kembali menuruni bukit itu menuju gerbang keluar lokasi komplek makam, tapi aku masih menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di samping makam besar tadi sempat kulihat. Dan tidak ada nama, tahun, atau keterangan apapun di atas makam itu, yang pasti, kalaun ini makam seorang manusia, pasti tubuhnya besar seperti raksasa. Dan akupun mencoba mengabadikannya dengan kamera Hp.

Saat akan mulai memotret, tiba tiba Kopral Hanafi muncul disamping ku…

“ Ini makam siapa zi “ tanya Kopral Hanafi padaku

“ ini makam Syeiiikh “ jawabku dengan yakin

“ Syeikh ?….syeikh apa zi ? “ dia melanjutkan pertanyaannya

“ Ini adalah makam Syeikh Phitecantropus Walisongoensus Erectus ?“ aku menjawab sambil menatap wajahnya sambil serius

“ Haaah…” dia pun heran

“ Iyahhh…dia hidup pada zaman dahulu kala ?“ terangku lebih lanjut

“Zaman kapan tuh …? ” tanya dia lagi

“ Yah itu…..Zaman Megalithikum !!!” jawabku lagi sambil bergegas pergi..

“ Ah…maneh mah ngarang wae “ ucap dia sambil tersenyum dengan giginya yang ompong

“ Bodo amat…emang gua pikiran “ sambil bergesa pergi menyusul yang lain menuju kendaraan..

Hujan rintik rintik mulai turun, dan kamipun segera meninggalkan kota Cirebon melanjutkan perjalan ke lokasi berikutnya sambil mendengarkan penjelasan kakakku Ust. Nasrudin tentang siapa sosok Dzaatu Kahfi.

“ Dzaatu Kahfi itu adalah salah satu guru dari Sunan Gunung Jati dan bla…. bla….. bla “ terang Ust. Nasrudin mengiringi perjalanan kami. Dan aku tidak menyimak dengan baik karena mataku mulai tertuju pada orang orang yang pagi mulai beraktivitas di jalanan dengan pikiran bertanya tanya dimana sebenarnya Makam Sunan Gunung JAti Berada ( masa sih dia sudah pindah dari Cirebon ke kota lain, karena selam ini dia cuma ngontrak di sini…ga mungkin kan ?)

Semoga saja perjalanan ini akan mengantarkan kami pada lokasi berikutnya  dengan tujuan lebih pasti dan jelas tanpa adalagi yang harus bertanya…………………………………….”Ini makam siapa yah…?

inspirasi para kiyai 2 Februari 2010

Posted by Hasbulloh Al-Ghazaly in aggregator duc.
Tags:
add a comment
beberapa bulan ini ku sering mendengarkan kisah-kisah walisongo dan ulama yang berjasa bagi pengembangan islam di nusantara, kisah ini diceritakan oleh para kiyai di pesantren tempat ku belajar.

ku sebut mereka para kiyai, karena mereka adalah para penerus perjuangan pendiri pesantren yang memang sehari-hari selalu mendedikasikan hidupnya dalam pengembangan pesantren, pengajian kitab serta pelayanan kepada masyarakat.

sungguh indah dan inspiratif mendengar para kiyai bercerita tentang hikmah dari perjalanan spiritual mereka ke makam para wali songo dan ulama dari pulau jawa, madura, sumatera hingga ke pulau dewata.

sebelum perjalanan mereka, sering ku dengar kegelisahan para kiyai akan berbagai persoalan yang mereka hadapi terutama dalam mengembangkan ajaran Islam di sekitar mereka. mulai permasalahan pesantren, kegelisahan hati sampai ke hal yang paling mendasar yaitu landasan filosofis.

setelah para kiyai berkumpul membahas berbagai persoalan yang mereka hadapi, serta kegelisahan hati yang menyelimuti, akhirnya mereka berkesimpulan untuk mencari inspirasi dan menggali motivasi agar semangat mereka tak pernah pudar dalam pengembangan masyarakat melaui pesantren.

dengan memutuskan untuk melakukan perjalan spiritual, akhirnya mereka pun memutuskan walisongo adalah tujuan perjalanan spiritualnya.

perjalanan para kyai ini ada yang dilakukan secara bersamaan sehingga menghasilkan sebuah reportase perjalanan yang ditulis langsung oleh penulis terkenal yaitu mataharitimoer reportase ini sangat bagus untuk dibaca yaitu ada dalam http://jejakwalisongo.blogspot.com dan http://jejakwalisongo.wordpress.com

Selain itu, pengelana semesta (salah satu kiyai) dalam rubrik "perjalanan menembus waktu" mendokumentasikan pengalamannya ikut dalam rombongan perjalanan spiritual itu, selengkapnya bisa di baca di http://pengelanasemesta.blogdetik.com

Namun, ada juga yang dilakukan dengan tanpa perencanaan, tanpa reportase tertulis sedangkan tujuannya tetap pada ziarah para wali songo dan ulama. dan aku tetap menjadi pendengar setia dari cerita perjalanan para kiyai.

Alhamdulillah, setelah perjalanan spiritual tersebut, banyak karya nyata yang dihasilkan oleh para kiyai untuk pengembangan masyarakat, diantara karya-karya tersebut adalah :

Pertama, Kiyai Nasrudin Latif (kiyai kampung dalam buku Guru Kehidupan) sudah berencana untuk mengembangkan pesantren dengan membangun salah satu cabang dari pesantren yang sekarang beliau pimpin.

Kedua, Kiyai Nasrudin Rahmani sedang mengembangkan proyek perumahan di sekitar pesantren yang bernilai puluhan milyar rupiah yang sekian persen dari keuntungannya untuk pengembangan pesantren.

Ketiga, pengelana semesta, akhirnya telah selesai menulis sebuah karya yang sedang dalam proses editing oleh penerbit yang insya allah bukunya tersebut akan menjadi pedoman bagi para santrinya di pesantren dan tentunya sebagai tuntunan ibadah praktis bagi masyarakat.

Keempat, mataharitimoer, sudah merampungkan karya novelnya yang kedua yaitu guru kehidupan dan sudah beredar di berbagai toko buku.

Kelima, Ozzy Maesyar akhirnya kini mau kembali masuk ke kelas untuk mengajarkan santri atas semua ilmu sejarah dan hukum yang beliau kuasai.

bagiku, cerita para kiyai dalam mendapatkan inspirasi dengan melakukan perjalanan spiritual ke makam walisongo dan para ulama nusantara merupakan cerita yang inspiratif, karena kini kehidpuan di pesantren dapat tergerakkan kembali ketika para kiyainya sudah mendapatkan tambahan semangat baru dalam mengembangkan masyarakat melalu pesantren.

Sungguh mulia para kiyai selau belajar dari para pendahulunya dalam pengembangan masyarakat melalui dakwah Islam.

Mudah-mudahan masih banyak ilmu yang ku dapatkan dari para kiyai, agar belajarku bukan hanya pada pembelajaran formal di pesantren, tapi dari berbagai hikmah yang di dapat para kiyai.

"Allahumma aarina al-haq haqq warzukna it-tibaa'ah wa aarina al-bathila baatila warzukna ijtinaabah"

Buku Gratis dari MT 1 Februari 2010

Posted by MT in aggregator duc.
Tags:
add a comment

gkbookBanyak guru kehidupan di sekitar kita. Anda bisa menemukannya hanya beberapa langkah dari tempat anda duduk. Bisa jadi mereka ada di dekat rumah, kantor, sekolah, kampus, dan lain tempat dimana anda sering keluyuran.

Tak perlu membeli buku GK untuk mengikuti event ini. Karena ada 5 buku Guru Kehidupan yang kami sediakan bagi blogger yang terpilih. Caranya, buat sebuah tulisan di blog anda dengan tag “guru kehidupan“. Lebih jelas, silakan ikuti cara mainnya :

  1. Tulisan berisi tentang sosok guru kehidupan yang anda temukan. Gaya tulisan boleh seperti penulisan dalam buku Guru Kehidupan karya MT. Boleh juga dengan gaya anda sendiri.
  2. Lengkapi postingan tersebut dengan potret sang guru kehidupan yang anda wawancarai.
  3. Tulisan harus karya anda sendiri, bukan ciplakan karya orang lain.
  4. Tulisan merupakan postingan yang anda publish setelah pengumuman ini dipublish. Jadi bukan tulisan lama yang telah anda posting sebelumnya.
  5. Tulisan bersifat inspiratif, tidak mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan disintegrasi nasional.
  6. Sertakan TAG “guru kehidupan” pada tulisan anda.
  7. Setiap orang bebas menulis lebih dari satu postingan tentang guru kehidupan yang berbeda.
  8. Pendaftaran gampang. Tuliskan informasi pada kolom komentar pada pengumuman ini, seperti :
    Nama : nama anda
    URL Blog : alamat blog anda
    Link : alamat (url) link postingan pada blog anda, yang anda ikutkan dalam event ini.
  9. Anda mengizinkan postingan tersebut kami re-post pada blog Guru Kehidupan dengan tetap menyertakan link ke blog anda.
  10. Sebagai pelengkap, pasang banner Guru Kehidupan pada blog anda. copy/paste kode banner di bawah postingan ini.
  11. Event ini terbuka bagi siapapun, tak hanya untuk dblogger, (komunitas blogger blogdetik)
  12. Event ini dibuka sejak dipublikasikan dan ditutup pada 27 Pebruari 2010.
  13. Pengumuman 5 blogger yang mendapatkan 5 buku GK, 06 Maret 2010.

Ini kode bannernya :

<a href=”http://gurukehidupan-mt.blogspot.com/”><img src=”http://mataharitimoer.blogdetik.com/files/2010/01/banner-gk.jpg” border=”0″ alt=”gurukehidupan”></a>

[re-post from blog guru kehidupan]

Jabat erat!

MT